Rabu, 18 September 2013

cerpen



PENGORBANAN CINTA
Di sebuah desa ada seorang gadis bernama Mona Rahayu. Ia anak seorang pekerja swasta yang terkenal kesederhanaanya. Ia sangat disanjung-sanjung oleh para tetangga, teman, ataupun sahabatnya. Entah itu karena kepintarannya atau kecantikannya. Ia juga terkenal ramah, sopan, dan santun kepada orang-orang di sekitarnya.Ia seorang siwa kelas IX SMP Maju Tak Gentar. Di sekolah, ia lebih banyak diam daripada berkata-kata yang tak penting. Tapi, di balik kediamannya, ia juga memendam rasa kagum kepada temannya, Aries . Aries adalah teman sekelas Mona yang bisa dibilang begitu menguasai pelajaran di sekolahnya dan menjadi bintang kelas.
                “Eh, aku boleh minta nomer Handphone mu nggak?” tanya Aries
                “Emm,, mau buat apa?”
                “Yaa.. biar gampang aja komunikasi sama kamu kalo ada tugas. Boleh ya” pinta Aries
                “Ya sudah, ini nomer ku. Dicatat ya.” Jawab Mona sambil membacakan nomernya.
***
Siang berganti sore, sore pun barganti malam. Di rumah, Mona masih mengingat jelas kejadian tadi siang di sekolah. Baginya, itu adalah hal paling menyenangkan yang pernah ia alami selama ini.
                “Ya Tuhan.. Inikah jawaban yang Engkau berikan kepada ku atas doa ku selama ini?” tanya Mona dalam hati.
“Kring kring kring.” bunyi handphone mengganggu lamunannya.
“ Siapa ya, jam segini sms aku?” heran Mona sambil membuka sms
“Haii Mona, lagi ngapain? Ini aku Aries.” Sms di handphone nya
“Ya ampun.. ternyata Aries yang sms aku. Seneng banget deh rasanya.” batin Mona
Dengan segera, ia pun membalas sms Aries.
***
Malam itu telah mampu membuat hati Mona bagai di kahyangan sejenak. Ia merasa menjadi ratu sejagad jika bersama Aries. Tak disangka-sangka pula, setelah sekian lama berkomunikasi akhirnya Aries mengutarakan perasaan nya selama ini dengan Mona secara langsung.
                “Mona, aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
                “Mau bilang apa, Aries?” heran Mona
                “Emm.. gimana ya? Aku bingung mau bilang bagaimana.”
                “Nggak usah sungkan-sungkan seperti itu. Anggap saja aku orang terdekatmu.” Tenang Mona
                “Nah itu maksudku.” Jawab Aries
                “Maksud kamu apa?”
                “kamu itu sudah ku anggap orang terdekatku. Aku ingin kamu lebih dari seorang sahabat.” Jelas Aries
                “Jadi, maksud kamu?”
                “Iya.. aku ingin kamu jadi pacar ku. Menemani hari-hari ku yang selama ini kosong.. Gimana?”
                “Ha hee... ya aku mau jadi pacar mu, tapi dengan satu syarat.” Pinta Mona
                “Apa itu?”
                “Kamu harus setia kepada ku. Jika kamu melanggarnya,  jangan harap aku akan menjadi milikmu lagi. Bagaimana, apakah kamu siap berjanji kepada ku?” jelas Mona
                “Ya.. aku siap berjanji kepadamu.” Janji Aries
***
3 bulan berlalu, 5 bulan pun berlalu. Kini usia hubungan mereka sudah hampir setengah tahun. Suatu hari Aries mengajak Mona jalan-jalan ke kebun teh.
                “Emm,, situasinya enak banget ya. Cocok banget deh sama situasi hati ku saat ini.”
                “Emangnya hati mu sekarang gimana?” tanya Mona
                “Seneng banget karena ada kamu disisiku saat ini. Rasanya aku ingin menghentikan waktu biar situasi seperti ini nggak cepat berlalu begitu saja.” Jelas Aries
                “Nggak usah nggombal gitu deh.”
                “Ini beneran Mona. Andaikan besok aku sudah tiada, bagaimana? Apakah kamu akan menangisi kepergian ku ?”
                “Kamu itu ngomong apa sih? Ya pasti aku akan menangis.”
                “Kamu nggak usah menangis, Mona. Aku nggak mau melihat airmata mu menetes.”
                “Makanya, kamu sekarang nggak usah bilang seperti itu lagi ya, kalo kamu mengulangi lagi aku akan menangis sekarang. Percayalah aku akan selalu ada untukmu.” Sahut Mona
                “Ya, aku percaya akan hal itu.” Jawab Aries
                “Sip deh, eh pulang yuk. Udah sore nih.”
                “Ayoo..”
***
Malam itu sangat dingin bagi Aries. Ia sudah merasa tidak sanggup lagi untuk melewati malam yang panjang itu. Di tempat lain, Mona sedang gelisah memikirkan kata-kata Aries sewaktu di kebun teh. Entah, apa maksudnya dan apa artinya tapi di benak Mona ingin menanyakan apa sebenarnya maksud yang diucapkan Aries. Tapi, ia tak sampai hati menanyakannya. Malam itu pun ia tidur sampai larut malam karena sangat galaunya.
Pagi harinya di sekolah, Mona merasa jauh dengan Aries. Di hari itu, entah apa sebabnya Aries terasa berbeda tingkah lakunya. Mulai dari sering cari perhatian teman perempuan Mona, dan sampai tega membiarkan Mona pulang sekolah sendiri.
Di  rumah, Mona sangat kesal. Ia langsung menelpon Aries. Ia ingin menanyakan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Tapi, telfon Mona tidak diangkat oleh Aries. Ia pun semakin bingung, berulang kali ia mencoba menelfon Aries tapi berulang kali pula Aries tidak menyahutnya.Dia memutuskan untuk berhenti komunikasi dulu dengan Aries, ya sekiranya masalah ini sudah cukup reda.
***
Satu minggu kemudian, Aries menelfon Mona. Aries meminta Mona pergi ke taman saat itu juga karena ada hal penting yang ingin Aries katakan kepada Mona.  Jam 15:00 Mona pergi menju taman. Di taman, Aries sudah menunggu di bangku panjang berwarna putih. Mona dengan segera menemui Aries.
                “Ada apa,?” tanya Mona
                “Aku mau bilang sesuatu sama kamu” jawab Aries
                “Kamu mau bilang apa dengan ku?” heran Mona
                “Aku rasa kita sekarang sudah tidak cocok lagi. Akan lebih baik apabila kita saling instropeksi diri dan mengurus diri sendiri.”
                “Maksud kamu apa?” (dengan nada kesal)
                “Aku rasa kamu sudah mengerti maksud ku sebenarnya. Lebih baikk kita break dulu.” Jawab Aries
                “Oo.. jadi ini balasan mu kepada ku? Setelah apa yang selama ini aku lakukan untuk mu. Aku rela menangis batin melihat mu dekat dengan teman-teman ku.  Jawabb !!!” bentak Mona
                (diam tanpa kata)
                “Oo.. aku tahu, memang benar dugaan ku sekarang. Kau sudah melanggar janji kita dulu. Ternyata kau tega membuat aku menangis. Ok fine, jika itu memang ingin kamu, aku akan menuruti keinginanmu untuk yang terakhir kalinya. Tapi jangan harapkan aku kembali menuruti keinginanmu.” Jelas Mona (sambil berlalu meninggalkan Aries)
                “Andaikan kamu tahu. Aku sangat menyayangimu, Mona. Tapi aku tidak ingin membuatmu menangis esok hari ketika aku sudah meninggalkan dunia ini.” Kata Aries
***
Setibanya di rumah, Mona sangat sedih. Ia sangat sakit hati. Ia tidak habis fikir mengapa Aries tega mengkhianati kesetiannya selama ini. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Sampai ibunya juga bingung.
                “Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu
                “Ma, ternyata Aries nggak setia. Dia tega duain aku.”
                “Ya sudah, yang sabar, Nak. Di luar sana masih banyak lelaki yang lebih baik dari Aries.”
                “Tapi ma, aku sudah sayang sama Aries.”
                “Coba lupakan perlahan demi perlahan sayang. Coba ingat-ingat keburukanya padamu.” Nasehat ibu
                “Iya ma, makasih ya ma nasehatnya.”
                “Iya sama-sama sayang, tapi kamu jangan sampai telat makan nya.”
                “Iya mama.” 
***
2 bulan sudah masa kelam itu berlalu. Ya, setelah kejadian itu, Aries pun hilang bak ditelan bumi. Kemana perginya tak seorang pun tahu. Kabar terakhir yang didapatkan adalah jika Aries pergi ke Singapura. Tak tahu mengapa ia pergi, yang penting hal itu tak ingin Mona urusi.
Lina sahabat Mona dari kecil, memberi tahu Mona jika Aries pergi ke Singapura untuk berobat.
                “Mon, Aries itu sedang kritis.”
                “Terus apa hubungannya dengan aku?” (cuek)
                “Kamu itu nggak perhatian banget sih,? “ heran Lina
                “Ngapain aku harus perhatian sama orang yang udah bikin aku sakit hati?”
                “Kamu nggak tahu, Mon. Aries itu rela mutusin kamu itu juga demi kamu. Kamu nyadar nggak sih?”
                “Maksudnya apa?”
                “Aries itu nggak mau kamu sedih apalagi sampai nangis kalo kamu tahu sebenarnya umurnya udah nggak lama lagi. Makanya, ia mutusi kamu.”
                “emangnya dia sakit apa?”
                “Kanker Hati, Mon. Umurnya tinggal beberapa minggu lagi.”
                “Sungguh? Mengapa kamu tidak bicarain itu sama aku dari dulu.”
                “Karena aku udah terlanjur janji sama Aries. Kemarin, Aries udah dibawa pulang ke Jakarta karena orang tuanya udah nggak kuat biayain Aries di Singapura. Lebih baik, kamu sekarang nemuin Aries di Rumah Sakit sebelum terlambat.” Jelas Lina
                “Ya kamu benar. Sekarang aku pergi kesana.” Gegas Mona

                Jam menunjukkan pukul 10:00. Dengan mengendarai motor mio nya, Mona langsung tancap gas menuju Rumah Sakit. Takkan menghiraukan semua yang terjadi, yang terpenting sekarang ia harus sampai di RS dan menemui Arie untuk minta maaf.
                Tapi apa daya, setibanya di depan kamar Aries, Mona melihat ibu Aries menangis tak henti-henti. Mona mencoba bertanya kepada Ibu Aries
                “Bu, saya Mona teman Aries. Bagaimana keadaan Aries?” tanya Mona
                “Yang sabar ya, Nak. Aries baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.” Jawab ibu Aries
                “Apa bu? Tidak. Aries nggak mungkin meninggal. Ariess...... aku kesini untuk mu, tapi kenapa kamu nggak mau bertemu dengan ku?” (menangis)
                “Nak, sebeum meninggal Aries sempat menulis surat ini dan mberpesan untuk memberikannya untuk mu. Tolong diterima.”
                “Iya bu, terima kasih.”

Surat itu berisi curahan hati Aries selama ini. Mona pun semakin menyesal setelah apa yang ia lakukan terhadap Aries dulu. Tapi di akhir surat itu, ada tulisan “Keep smile and move on”. Kata-kata itu yang membuat Mona tetap tegar dan kuat menghadapi semua masalah itu.

TAMAT

Senin, 09 September 2013

SEJARAH MATARAM

SEJARAH MATARAM
Kyai Ageng Pemanahan bergelar Kyai Ageng Mataram. Mataram adalah nama daerah yang dihadiahkan kepadanya oleh Sultan Sultan Hadiwijoyo, Sultan di Kerajaan Pajang. Karena Kyai Ageng Mataram bersama putranya Hangabehi Loring Pasar (Danang Sutowijoyo) telah dapat mengalahkan Raden Adipati Aryo Penangsang pada tahun 1527 M di Jipang Panolan.
            Kyai Ageng Pemanahan selanjutnya minta ijin kepada Sultan untuk menempati daerah Mataram itu. Sultan Hadiwijoyo mengizinkan dan berpesan,” Seorang gadis dari Kalinyamat itu supaya diasuh dan dijaga baik-baik. Apalagi sudah dewasa hendaklah dibawa masuk ke Istana”.
            Pesan itu disanggupi oleh Kyai Ageng Pemanahan, tetapi ia memohon agar diperkenankan mengajak putra Sultan Hangabehi Loring Pasar untuk pindah ke Mataram. Kyai Ageng Pemanahan sekeluarga berangkatlah menuju tlatah Mataram disertai dua orang menantunya, yakni Raden Dadap Tulis dan Tumenggung Mayang. Ditambah pula Nyi Ageng Nis istri Kyai Ageng Mataram dan penasehatnya Ki Ageng Juru Martani. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis Pon tanggal 3 Rabiulawal tahun Jimawal. Dalam perjalanan mereka singgah berziarah ke Istana Pengging sehari semalam.
            Kyai Ageng sekeluarga melakukan doa dan sembahyang, memohon petunjuk kepada Tuhan, melakukan semedi dan shalat hajat, doanya ternyata diterima Tuhan, muncul pertanda pepohonan seketika menjadi condong, tetapi pohon serat tinggal tetap tegap. Setelah sembahyang subuh mereka berangkat menuju Mataram dan berhenti di desa Wiyoro. Selanjutnya membangun sebuah desa yakni desa Karangsari setelah singgah sementara waktu Kyai Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani mencari pohon beringin yang telah ditanam oleh Sunan Kali Jogo untuk tetenger di sanalah letaknya wilayah Mataram dimaksud.
            Terdapatlah pohon tersebut di sebelah barat daya Wiyoro. Lalu memilih tanah sebelah selatan beringin yang hendak dipakai sebagai halaman dan rumah untuk bertempat tinggal Kyai Ageng Pemanahan beserta keluarga. Mereka bekerja keras, hingga pembangunan rumah beliau selesai dalam waktu singkat. Kemudian rumah baru segera  ditempati Kyai Ageng Pemanahan yang kemudian tersohor namanya dengan gelar Kyai Ageng Mataram. Banyak saudara asing ke Mataram sehingga menambah ramai dan makmurnya Mataram (sekarang dikenal dengan nama Kotagede, pusat kerajinan perak di Yogyakarta).
            Sahdan gadis pingitan Sinuhun Sultan Hadiwijoyo yang berasal dari Kalinyamat kini telah dewasa. Ngabehi Loring  Pasar (Raden Danang Sutowijoyo) pun telah dewasa. Ia mengganggu gadis pingitan tersebut. Hal ini segera diketahui oleh ayahnya Ki Ageng Mataram. Anaknya dipanggil lalu bersabda:
Ki Ageng Mataram; Anakku..mengapa kamu berani mengganggu gadis pingitan, alangkah amarahnya Sinuhun nanti apabila mengetahui.
Raden Sutowijoyo berkata; ”Saya berani melakukan hal itu, karena telah menerima wahyu.
KAM : Bagaimana kamu dapat mengatakan demikian itu ?
R.S : Ya. Demikianlah ketika mendengar daun nyiur jatuh ayah Sultan terkejut, lagi pula ketika hendak minum air kelapa itu terkejut pula.
            Kyai Ageng Mataram menyatakan, kini belum masanya dan mengajak putranya mengharap untuk berjanji tetap setia. Keduanya berangkat, pergi ke kasultanan Pajang. Sinuhun Sultan Hadiwijoyo sedang bercengkerama dihadap para putranya dan keluarganya. Melihat kedatangan Kyai Ageng Mataram diantar putranya. Lalu sesudah berjabat tangan Ngabehi Loring Pasar pun menghadap menghaturkan sembah-bakti. Sinuhun bertanya dengan keheranan mengapa datang menghadap bukan waktunya menghadap. Kyai Ageng Mataram menyatakan bahwa menghadapnya itu karena putranya telah berdosa besar berani melanggar dan mengganggu gadis pingitan dari Kalinyamat.
            Dengan bijaksana Sinuhun Sultan Hadiwijoyo berkata,”Anak tidak berdosa, kalau demikian memang salah saya, tidak memikirkan anak yang telah dewasa. Oleh karena sudah terlanjur kamipun ikut menyetujui. Tetapi anak jangan dimurka, pinta Sinuhun kepada Ki Ageng Mataram.
            Waktu sudah berjalan sekian lama, karena usianya sudah uzur, Ki Ageng Mataram gering lalu mangkat pada hari Senin Pon 27 Ruwah tahun Je 1533. Dimakamkan di sebelah barat Istana Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Sementara itu, Ki Jurumartani pergi ke negeri Pajang menghadapkan putra Ki Ageng Mataram. Sinuhun lalu bercengkerama dengan Ki Jurumartani memberitahukan tentang mangkatnya Ki Ageng Mataram, Sinuhun terkejut hatinya dan bersabda;
            “Kakak Jurumartani, sebagai ganti dari penghuni Mataram ialah Ngabehi Loring Pasar dan harap dimufakati dengan nama Pangeran Haryo Mataram Senopati Pupuh”. Ki Jurumartani menyanggupi lalu mohon ijin kembali, peristiwa ini terjadi pada tahun 1540. Lalu Pangeran Haryo Mataram diangkat pada tahun Dal 1551 bergelar Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo yang menguasai tanah Jawa. Kemudian menurunkan raja-raja Surakarta dan Yogyakarta, demikian pula para Bupati di pantai-pantai Jawa hingga sekarang.
            Kanjeng Panembahan Senopati memegang kekuasaan kerajaan 13 tahun lamanya. Sesudah gering kemudian mangkat, pada hari Jumat Pon bulan Suro tahun Wawu 1563. Dimakamkan di sebelah barat Masjid di bawah ayahandanya. Selanjutnya putranya yang menggantikan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Prabu Hanyokrowati. Penobatannya dalam bulan yang bersamaan dengan wafatnya Kanjeng Panembahan Senopati.
            Pada suatu hari, Kanjeng Susuhunan pergi berburu rusa ke hutan. Dengan tiada terasa telah berpisah dengan para pengantar dan pengawalnya, kemudian beliau diserang punggungnya oleh rusa dan beliau jatuh ke tanah. Sinuhun diangkat ke istana dan ia perintahkan memanggil kakanda Panembahan Purboyo.
            Sinuhun bersabda, “Kakanda, andaikata kami sampai meninggal, oleh karena Gusti Hadipati sedang bepergian, putramu Martopuro harap ditetapkan sebagai wakil menguasai Negeri Mataram. Amanat tersebut disanggupi, Sinuhun terkenal dengan gelar Sinuhun Seda Krapyak. Beliau mangkat pada bulan Besar, tuhan Jimawal 1565 dan dimakamkan di sebelah bawah makan ayahandanya, Panembahan Senopati.
            Demikian sejarah singkat kerajaan Mataram, yang sampai saat ini terbukti masih berdiri kokoh. Lalu dari keturunan manakah raja-raja besar Mataram ? Berikut ini saya paparkan silsilah  leluhur kerajaan Mataram:
1.    Sinuhun Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit terakhir berputera Raden Bondan Kejawan yang   bergelar Kyai Ageng Tarub ke III.
2.    Kyai Ageng Tarub III mempunyai putra yakni Kyai Ageng Getas Pandowo.
3.    Kyai Ageng Getas Pandowo berputera Ki Ageng  Selo.
4.    Kyai Ageng Selo berputera Ki Ageng Nis.
5.    Ki Ageng Nis berputera Ki Ageng Pemanahan (Ki Ageng Mataram).
6.    Ki Ageng Pemanahan berputera Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo.
7.    Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalogo berputera Sinuhun Prabu Hanyokrowati.
8.    Sinuhun Prabu Hanyokrowati berputera Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Kalipatullah  Panetep Panatagama Senopati ing Prang
Bagi kebanyakan masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta dan Solo, percaya dengan kisah mistik raja-raja Mataram yang berhubungan erat dengan Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul entitasnya bukan lah sejenis jin, siluman atau setan, tetapi merupakan wujud panitisan dari bidadari, yang turun ke dalam dimensi gaibnya bumi (bukan alam ruh/barzah), berperan menjaga keseimbangan alam semesta khususnya sepanjang pesisir selatan Jawa dan wilayah samodra selatan Nusantara. Menjaga kelestarian alam dengan mencegah atau menghukum manusia yang tidak menghormati alam semesta ciptaan Tuhan YME, atau manusia yang merusak keseimbangan alam dengan cara mengambil kekayaan alam secara serakah dan tamak. Kanjeng Ratu Kidul sebagaimana raja atau ratu gung binatara yang bijaksana dan sakti mandraguna, manembah tunduk kepada Gusti Ingkang Akaryo jagad. Namun demikian, Kanjeng Ratu Kidul tetap sebagai entitas mahluk halus, dalam arti tidak memiliki raga atau jasad dalam bentuk fisik.